
Jeneponto-Gemaliterasi.Com. Gantalak Jarang (kuah kuda) adalah kuliner yang populer dalam masyarakat Turatea Kabupaten
Jeneponto. Kuliner ini biasa disajikan pada hajatan-hajatan masyarakat Turatea,
seperti pernikahan, sunatan, atau pesta rakyat. Kuliner ini mudah ditemukan di
pasar-pasar tradisional Kabupaten Jeneponto.
Kuliner Gantalak Jarang adalah budaya masyarakat Turatea yang sudah turun temurun. Awal mulanya tidak lepas dari sejarah masyarakat Turatea itu sendiri, sehingga bila berbicara masalah sejarah kuliner ini tentu kita berbicara pada sejarah perjuangan masyarakat Turatea Kabupaten Jeneponto.
Baca juga: mengenal-karakter-masyarakat-turatea-kabupaten-jeneponto
Sejarah diawali dengan
perjuangan rakyat Turatea untuk melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Gowa.
Sebagai masyarakat yang berada dalam kekuasaan kerajaan lain, tentu masyarakat
merasakan penderitaan atas tindakan penguasa. Dan puncaknya pada akhir Abad XVI,
saat masyarakat Turatea dipaksa bekerja di hutan Gowa menebang dan menarik pohon
dalam hutan. Saat itulah darah Pari’ba Daeng Nyentok, suami Kare Layu II mendidih,
siri’ na pacce (harga diri dan kepedihannya) merontak, hingga lahir tekad untuk
melepaskan diri rakyatnya dari kekuasaan Kerajaan Gowa.
Menurut catatan “Patturioloang” (sejarah) Kerajaan Binamu, sebagaimana yang tertulis dalam Lontarak Binamu, yang tersimpan di rumah H. Abd. Rahim Bin Genda, sebagaimana yang diceritakan kepada Andi Zainuddin S. Tompo,penulis buku Turatea Dalam Ungkapan Budaya (2001) bahwa sepulang kerja paksa di hutan Gowa, Pari’ba Daeng Nyento membentuk gerakan perjuangan kemerdekaan Turatea dengan menghubungi para Kare (penguasa) hingga akhirnya membentuk Persekutuan Negeri Turatea, yang diketuai oleh Nunneng, Kare Layu III.
Baca juga: dpk-jeneponto-launching-ruang-arapang-rapang-kacaradekang-dan-website-dpk-jeneponto
Singkat cerita,
diputuskanlah akan melakukan perang melawan Kerajaan Gowa yang dikenal memiliki
pasukan prajurit yang tangguh, banyak, dan berpengalaman perang. Diangkatlah
Daengta Bontotannga sebagai panglima perang, dipersiapkan prajurit dengan 4
devisi lengkap dengan senjata dan pasukan berkudanya. Rapat raksasa untuk
membakar semangat prajurit dilakukan di Maero, sebuah padang yang luas.
Setelah persiapan perang telah matang, mental perang prajurit telah kuat, maka dikirimlah utusan ke Raja Gowa untuk menyampaikan keinginan masyarakat Persekutuan Negeri Turatea untuk merdeka, lepas dari kekuasaan Kerajaan Gowa. Hal ini tentu membuat Raja Gowa marah dan menyiapkan prajurit-prajuritnya untuk menyerang Turatea.
Baca juga: kuliner-gantalak-jarang-sisa-menunggu-sidang-penetapan-sebagai-budaya-asli-jeneponto
Pertempuran pun terjadi.
Pasukan Kerajaan Gowa beradu kekuatan senjata dengan prajurit Turatea yang
telah dibakar semangatnya oleh Kare Layu dan Daengta Bontotangga. Perang
terjadi di Gunung Se’rukang. Beratus-ratus nyawa melayang pada kedua belah
pihak. Mayat bergelimpangan dan bertindihan di sana-sini. Darah mengalir
bagaikan banjir kecil di kaki Gunung Se’rukang.
Sudah berhari-hari berperang, namun belum ada tanda-tanda akan berakhir, sementara bahan makanan pun semakin menipis. Seperti halnya pertempuran lainnya, bahwa dalam kondisi darurat apapun bisa dimakan demi mempertahankan hidup dan menambah kekuatan. Pilihan satu-satunya untuk mengatasi kekurangan bahan makanan adalah menyembelih sebagian kuda untuk bahan makanan, terutama kuda yang luka dalam perang.
Karena bumbunya terbatas, maka daging-daging kuda dimasak dengan beberapa cara, ada yang dibakar dan ada pula yang dimasak kuah dengan bumbu garam saja. Ternyata dari 2 cara memasak ini, memasak gantalak (kuah) yang paling disukai karena mengeluarkan aroma dan rasa tersendiri yang beda dengan kuliner sebelumnya dengan bahan daging kerbau. Kuah kuda inilah yang oleh masyarakat Turatea menyebutnya Gantalak Jarang.
Setelah mengkomsumsi Gantalak Jarang, kekuatan dan prajurit Turatea bertambah. Mereka menyerang pasukan Kerajaan Gowa dengan penuh nafsu, bagai kuda yang terbang, menggigit, dan menendang musuh-mushnya. Lanjut cerita, pasukan kerajaan Gowa kewalahan dibuatnya, banyak yang lari menyelamatkan diri. Panglima pasukan Gowa tak dapat lagi mempertahankan posisinya, hingga terpaksa bertempur mati-matian seorang diri, dan akhirnya tewas. Perangpun berakhir. Setahun kemudian Raja Gowa memberikan kemerdekaan kepada Persekutuan Negeri Turatea.
Aroma dan rasa kuliner Gantalak Jarang, nampaknya tersimpan di hati para prajurit Turatea. Kerinduan selalu hadir untuk menikmati Gantalak Jarang. Kuliner Gantalak Tedong (Kuah Kerbau) mulai tergeser di hati masyarakat, perlahan tapi pasti digantikan oleh aroma dan rasa Gantalak Jarang, yang awalnya hanya dikenal sebagai kendaraan perang dan alat angkutan sejak diperkenalkan oleh Kerajaan Majapahit pada Abad ke-13.
Baca juga: tbm-an-nur-palajau-bersama-mahasiswa-kkn-megarezky-makassar-penyuluhan-kesehatan
Kuliner Gantalak Jarang
pada perkembangannya semakin menyatu di hati masyarakat, sebagai suguhan
istimewa pada hajaran-hajatan pesta rakyat, perkawinan, dan perkumpulan
lainnya. Ini berlangsung setelah terbentukan kakaraengang/kerajaan, seperti
pada pesta rakyat pelantikan Raja Binamu 1, Ma’gaukang Daeng Riolo pada tahun
1607.
Kuliter Gantalak Jarang menjadi latar belakang cerita rakyat Turatea, Ma’di Daeng Rimakka yang berperang dengan pamannya sendiri, Karaeng Bontotangga. Kisah perang saudara kita diperkirakan terjadi pula pada Abad XVII atau XVIII. Berawal dari Karaeng Bontotangga kehilangan kudanya yang hendak nigantalak (dikuah) pada pesta perkawinan anaknya dan terdengar kabar bahwa kuda-kuda Karaeng Bontotangga telah nigantalak oleh Karaeng Cabodo-Bodo (Karaeng Binamu waktu itu) bersama Ma’di Daeng Rimakka dan pagorra patampuloa (perkumpulan perampok yang berjumlah 40 orang).
Karaeng Bontotangga langsung
menuduh dan meminta pertanggungjawaban Ma’di Daeng Rimakka. Ma’di Daeng Rimakka
saat ikut berpesta Gantalak Jarang dengan sahabat-sahabatnya sebenarnya
tidak tahu masalah karena baru pulang dari Kerajaan Gowa. Dia tidak terima
dituduh sebagai pencuri kudanya Karaeng Bontotannga dan lebih memilih berprang
daripada harus mengembalikan kuda Karaeng Bontotangga.
Perangpun terjadi antara Ma’di Daeng Rimakka bersama pasukannya dengan pasukan Karaeng Bontotangga. Karena dihianati oleh sahabatnya sendiri, anggota pagorra patampuloa, akhirnya Ma’di Daeng Rimakka tewas di tangan pamannya sendiri.
Cerita tentang kuliner Gantalak
Jarang terangkai pula setelah Indonesia merdeka. Belanja yang ingin kembali
menjajah Indonesia selalu mengadakan agresi dan melumpukan perlawanan di
daerah-daerah, termasuk para pemuda Turatea. Untuk menghindarkan diri dari
pembantaian, maka para lelaki dan pemuda Kerajaan Tolo membuat benteng
pertahanan di atas bukit Karampuang. Mereka meninggalkan rumah dan keluarganya
tanpa perbekalan bahan makanan, karena waktu itu, akhir 1947, masa paceklik
sedang melanda Bumi Turatea. Maka makanan pokok mereka di Benteng Karampuang
adalah Gantalak Jarang. Hal ini dituturkan oleh anak pejuang yang gugur
di Benteng Karampuang.
Kini kuliner Gantalak Jarang telah menjadi sajian wajib pada hajatan-hajatan perkawinan dan sunatan. Hajatan terasa tidak lengkap tanpa disajikan Gantalak Jarang. Tamu terasa tidak puas atas pelayanan tuan rumah bila pulang tanpa menikmati Gantalak Jarang. Sajian istimewa bagi tamu pejabat atau kepala desa adalah gantalak jarang yang beserta tulangnya atau pallu buku.
Baca juga: madjid-turuki-warga-kabupaten-buton-tengah-menempuh-100-km-demi-bertemu-sang-tokoh-literasi
Dari uraian singkat di atas dapat dikemukakan masyarakat Turatea mulai mengenal kuliner Gantalak Jarang pada awal Abad XVII, yaitu pada masa perang kemerdekaan melawan Kerajaan Gowa.
* Acuan: Zainuddin Tompo, Tiga Ungkapan Sejarah Turatea, Penerbit S. Bila Makassar, 2001.
(Bagi masyarakat yang memiliki referensi tentang sejarah Gantalak Jarang silahkan berkomentar meluruskan bila ada kekeliruan dalam tulisan ini !).



