
Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) telah menunjutkan komitmennya sebagai salah satu lembaga pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa Indonesia, antara lain melalui gerakan literasi nasional dan gerakan literasi desa. Untuk mewujudkan gerakan literasi tersebut, maka Perpusnas menjalin kemitraan dengan perpustakaan desa dan Taman Baca Masyarakat (TBM) di seluruh wilayah Indonesia melalui Program Trasformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS).
Pada TPBIS tahun 2024, Perpusnas menyalurkan Bantuan Buku Bacaan Bermutu kepada perpustakaan desa/TBM yang diusulkan oleh Dinas Perpustakaan Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Bantuan berubah rak buku dan buku bacaan sebanyak 1.000 eksemplar. Sebelumnya, Perpusnas telah menyalurkan bantuan buku dan komputer kepada beberapa perpustakaan desa/TBM, termasuk yang melalui jalur Reflika Mandiri Pemerintah Provinsi.
Baca pula: sim-tpbis-sangat-membantu-pengelola-perpustakaantbm-dalam-manajemen
Untuk memantau perkembangan pemanfaatan atau pelaksanaan TPIS di perpustakaan desa/TBM yang menerima manfaat TPBIS, maka Perpusnas meluncurkan Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (SIM-TPBIS). Aplikasi ini telah diaktifkan sebelum tahun 2024, tetapi tahun 2024 SIM-TPBIS mengalami penyempurnaan.
Melalui SIM-TPBIS, Perpusnas dapat melihat lihat bagaimana aktivitas pelayanan para tim pengelola perpustakaan desa/TBM. Bagaimana gambaran kualitas kinerja tim dapat dilihat dari warna KPI (Key Performance Indeks). KPTPBIS Merupakan gambaran kinerja pengelola atau perpustakaan/TBM yang diukur dari beberapa indikator.
Indikator-indikator KPI erat kaitannya dengan bagaimana strategi perpustakaan/TBM dalam mengembangkan diri. Ada 5 Indikator yang mempengaruhi warna KPI, yaitu: Peningkatan Layanan Informasi, Pelibatan Masyarakat, Advokasi, publikasi, dan jumlah pengunjung setiap bulan. Angka-angka dari 5 indiator ini menyalakan 3 warna, yaitu: warna merah bila KPI menghasilkan angka kurang dari 25 yang berarti rendah; warna kuning bila angka KPI antara 26-75 yang berarti kuning, dan hijau bila angka KPInya antara 76-100 yang berarti tinggi.
Baca pula: ayo-menjadi-wartawan-untuk-pembangunan-desakelurahan-sendiri
Agar Perpusnas bisa memantau KPI setiap perpustakaan/TBM penerima manfaat, maka setiap perpustakaan/TBM wajib memiliki akun SIM-TPBIS. Anjuran yang bersifat wajib inilah yang membuat perpustakaan/TBM penerima manfaat terbagi 4, yaitu: 1. Belum memiliki akun SIM-TPBIS, 2. KPI berwarna merah, 3. KPI berwarna kuning, dan 4. KPI berwarna hijau.
Contohnya, kami ambil acuan dari satu kabupaten. Di kabupaten tersebut terdapat 34 perpustakaan/TBM penerima manfaat. Dari 34 tersebut terdapat 27 (79,4 %) belum memiliki SIM/Angka, 4 (8,8 %) KPI merah, 3 (8,8 %) KPI kuning, dan 2 (5,8 %) KPI hijau. Di Regoinal 3 yang meliputi Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Gorongtalo, perpustakaan/TBM yang KPI-nya berwarna hijau masih sangat sedikit, yaitu hanya 25 dari ratusan perpustakaan/TBM. Angka dan warna ini adalah hasil pengimputan data-data perpustakaan/TBM selama 6 bulan, yaitu Januari-Juni 2024, masa pengiputannya sengaja diperpanjang dari yang awalnya sampai tanggal 10 Juli diperpanjang menjadi 20 Juli dan setelah itu diperpanjang lagi. Perpanjangan masa penginputan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap jumlah perpustakaan/TBM yang berwarna kuning, apalagi menghijau.
Berangkat dari pengalaman menginput data di SIM-TPBIS TBM An Nur Palajau, kami menyampaikan bahwa mencapai warna hijau bagi perpustakaan desa/TBM bukanlah perkara mudah, tidak semudah dari menginput data yang telah di SIM-TPBIS. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi sulitnya mencapai warna hijau, antara lain:
1. Faktor tenaga penginput
TBM biasanya dikelola oleh swasta tidak seperti perpustakaan desa yang memiliki insentif sendiri dari pemerintah desa bagi pengelola perpustakaan. TBM tidak memiliki insentif tetap, makanya TBM umumnya dikelola sendiri oleh pendiri yang umumnya adalah orang-orang sibuk. Untuk mendapatkan tenaga IT untuk mengurus SIM-TPBIS tentu butuh dana, sedangkan umumnya TBM tidak memiliki dana untuk menggaji tenaga pengelola atau tenaga IT. Ada beberapa penyebab sehingga TBM sampai sekarang belum memiliki akun SIM-TPBIS, antara lain sumber daya IT tidak ada, atau pendiri sekaligus pengelola tidak memiliki waktu untuk membuka SIM, dan pengelola bersikap masa bodoh (tidak mau belajar, tidak mau berusaha, dan gengsi bertanya).
2. Peningkatan layanan informasi
Pada indikator ini, yang menyebabkan KPI perpustakaan/TBM sulit mencapai warna hijau adalah: a. Koleksi bahan bacaan yang sangat kurang, belum mencapai 1.000 eksemplar dan tidak memiliki koleksi e-book; b. Belum memiliki komputer yang tersambung dengan internet; dan c. Tidak memiliki program kerja tahunan sehingga tidak diketahui berapa anggaran perpustakaan/TBM pertahun.
3. Pelibatan masyarakat
Pada indiator ini dipastikan banyak perpustakaan/TBM yang kesulitan menginput data karena tidak adanya data yang bisa diinput. Hal ini tentu melanda perpustakaan/TBM yang kurang pelayanan kepada masyarakat. Perpustakaan/TBM hanya menjadi gudang buku atau tempat membaca semata tapi adanya kegiatan yang melibatkan masyarakat. Bagi perpustakaan/TBM yang aktif melakukan kegiatan-kegiatan tentu tidak kesulitan pada indikator ini, karena kegiatan telah tertulis di buku kegiatan atau telah tersimpan di media sosial.
4. Advokasi
Advokasi mempengaruhi kelancaran kegiatan dan kemajuan perpustakaan/TBM. Pengelola yang rajin melakukan advokasi tentu perpustakaan/TBM-nya akan lebih cepat berkembang daripada perpustakaan/TBM yang hanya duduk menunggu bantuan pemerintah. Bagi perpustakaan/TBM yang kurang kegiatan advokasinya akan sulit mencapai warna hijau karena akan kesulitan data yang akan dinput pada indikator advokasi ini. Tidak ada catatan tentang kegiatan advokasi dan hasil dari advokasi tersebut baik pada lembaran kertas maupun di media sosial.
5. Publikasi
Publikasi sangat membantu pengelola perpustakaan/TBM untuk menyimpan data-data dan sekaligus membantu dalam advokasi. Pengalaman kami, karena selalu mempublikasikan kegiatan-kegiatan TBM sehingga selalu mendapat kirim majalah atau buku dari pengguna media sosial. Perpustakaan/TBM yang kurang mempublikasikan kegiatannya akan kesulitan menginput data-data di tiga indikator, yaitu pelibatan masyarakat, advokasi, dan publikasi. Ketiga indikator ini berkaitan erat.
6. Jumlah pengunjung
Data jumlah pengunjung di perpustakaan/TBM menyumbang beberapa persen untuk menyempurnakan angka KPI. Data ini tentu diambil dari rekapitulasi pengunjung setiap bulan. Datanya tentu tersimpan dari buku pengunjung atau lembar catatan pengelola. Banyaknya pengunjung atau layanan di perpustakaan/TBM tentu mempengaruhi data ini. Kesulitan pengelola pada indikator ini adalah tidak memiliki laporan bulanan atau triwulan yang bisa membantunya mengingat berapa jumlah pengunjung dala setiap bulan.
Berdasarkan paparan di atas, maka kami mencoba memberikan solusi agar bulan depan perpustakaan perpustakaan/TBM yang kita kelola bisa menyala kuning atau hijau atau agar warna hijau bisa dipertahankan, antara lain:
1. Tingkatkan kualitas tenaga pengelola perpustakaan/TBM
Pengelola perpustakaan/TBM perlu terus belajar untuk meningkatkan kemampuan diri dalam mengelola perpustakaanTBM terutama kemampuan IT agar percaya diri berhadapan dengan layar SIM-TPBIS. Mengikuti bimtek atau webinar keliterasian yang dilaksanakan oeh Perpusnas, Perpusda, atau Perguruan Tinggi adalah salah satu cara meningkatkan kualitas diri.
Peran Perpusda selaku pembina perpustakaan/TBM perlu terus ditingkatkan, mendatangi perpustakaan/TBM yang belum mampu membuka SIM-TPBIS atau melakukan kegiatan bimtek pengimputan SIM-TPBIS, bimtek pengelolaan perpustakaan/TBM, sampai mereka bisa minimal KPI berwarna kuning.
2. Aktif membangun kolaborasi dan menjemput bola
Perpustakaan desa/TBM tidak akan bisa berkembang tanpa berkolaborasi dengan berbagai pihak. Dari mitra kita bisa mendapat sumbangan bahan bacaan, dana, atau narasumber untuk melakukan kegiatan-kegiatan. Jangan malu mendatangi sekolah-sekolah atau instansi-instansi untuk advokasi atau mengajaknya bermitra. Jangan malu open donasi di media sosial. Membangun kemitraan dengan media cetak atau online pula dapat membantu kita untuk publikasi kegiatan. Semakin banyak mitra maka semakin besar peluang untuk berkembang.
3. Kreatif
Saat perpustakaan/TBM kita kesulitan dana, maka jangan hanya duduk menunggu bantuan dana dari pemerintah. Pengelola harus kreatif membuat sumber-sumber dana, misalnya menjalankan literasi finansial,kedai literasi, menulis dan menjual buku, dan sebagainya.
4. Giat mempublikasikan kegiatan
Kalau pada priode pengimpulan yang lalu, KPI masih merah atau kuning karena kurang publikasi, maka sekarang mari kita berubah, yaitu publikasikan seluruh kegiatan, baik di media cetak, maupun media online. Posting di facebook, istagram, tik tok, website, atau youtobe. Publikasi ini akan membantu kita menyimpan data-data yang dibutuhkan oleh SIM-TPBIS.
5. Bantu TBM untuk Mendapatkan 5 % dari Anggaran Dana Desa
Walau Undang-Undang telah memberikan 5 % anggaran desa untuk perpustakaan/TBM namun masih banyak TBM yang memperoleh baian itu dari pemerintah desanya. Dana 5 % ini bisa membuat perpustakaan/TBM leluasa melakukan kegiatan pelibatan masyarakat, membeli komputer, memasang wifi, dan mendapatkan tenaga IT untuk mengurusi SIM-TPBIS.
Bila kita mau belajar, mau berubah untuk kemajuan perpustakaan/TBM maka yakinlah perpustakaan/TBM yang kita kelola akan berkembang dan KPI-nya berwarna hijau.
Salam literasi, mari bergerak dan menggerakkan !



