
Jeneponto-Gemaliterasi.Com. Di banyak tempat, sebuah perpustakaan
atau taman bacaan lahir dari bangunan yang layak, dukungan anggaran yang
memadai, serta sumber daya yang cukup. Namun tidak demikian dengan TBM An Nur
Palajau. Lembaga ini lahir dari sebuah balai-balai sederhana berukuran 4 x 4
meter yang berdiri di depan rumah seorang warga Desa Palajau. Dari tempat yang
sangat sederhana itulah sebuah mimpi besar mulai dirintis: menghadirkan cahaya
literasi bagi masyarakat.
Nama "An Nur" yang berarti
cahaya bukanlah sekadar nama. Ia adalah doa, harapan, sekaligus visi. Cahaya
yang dimaksud bukan hanya penerangan fisik, melainkan cahaya ilmu pengetahuan
yang mampu membuka wawasan, membangun kesadaran, dan mengubah masa depan
masyarakat. Sejak awal, TBM An Nur Palajau dibangun dengan keyakinan bahwa
perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil yang dilakukan secara
konsisten.
Perjalanan enam tahun TBM An Nur
Palajau adalah bukti bahwa pengabdian tidak selalu membutuhkan kemewahan.
Bahkan, pendirinya yang merupakan penyandang disabilitas menunjukkan bahwa
keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkontribusi bagi masyarakat.
Dalam konteks pembangunan desa, keberadaan TBM ini menjadi contoh bahwa
semangat melayani dan membangun masyarakat jauh lebih penting daripada kondisi
yang dimiliki seseorang.
Sebagai lembaga berbasis masyarakat,
TBM An Nur menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Keterbatasan dana
operasional menjadi persoalan yang hampir selalu hadir dalam setiap tahap
perjalanan. Di sisi lain, rendahnya minat baca dan minat kunjung masyarakat
menjadi tantangan yang lebih kompleks. Membangun budaya literasi tidak cukup
hanya dengan menyediakan buku, tetapi juga membutuhkan proses panjang untuk
menumbuhkan kesadaran bahwa membaca adalah kebutuhan.
Tantangan lainnya adalah bagaimana
mengajak generasi muda untuk terlibat dalam kegiatan literasi. Di era digital
yang dipenuhi berbagai hiburan instan, mengajak pemuda datang ke taman bacaan
sering kali menjadi pekerjaan yang melelahkan. Namun TBM An Nur tidak memilih
menyerah. Berbagai program terus dicoba, berbagai pendekatan terus dilakukan,
meskipun hasilnya tidak selalu sesuai harapan.
Dalam upaya mencari solusi atas
keterbatasan pendanaan, TBM An Nur pernah bertransformasi menjadi perpustakaan
desa. Langkah ini ditempuh dengan harapan memperoleh dukungan pembiayaan
melalui Anggaran Dana Desa. Namun kenyataan tidak selalu sejalan dengan
harapan. Berbagai advokasi yang dilakukan belum mampu menghadirkan dukungan
yang diharapkan. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa keberlanjutan
sebuah gerakan sosial tidak boleh sepenuhnya bergantung pada bantuan pihak
lain.
Semangat kemandirian kemudian
mendorong lahirnya berbagai inovasi. Salah satunya adalah pembangunan Kedai
Literasi sebagai usaha produktif untuk menopang kebutuhan lembaga. Meskipun
hasilnya belum mampu menutupi seluruh biaya operasional, langkah tersebut
menunjukkan adanya kemauan kuat untuk bertahan hidup dengan kemampuan sendiri.
Upaya mencari dukungan melalui penulisan proposal dan kerja sama dengan
berbagai lembaga juga terus dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar yang tidak
pernah berhenti.
Menariknya, keterbatasan yang dihadapi
justru tidak menghalangi TBM An Nur untuk berprestasi. Dalam dua tahun
terakhir, lembaga ini mampu mencapai KPI 100 persen dan menerima berbagai
penghargaan bergengsi. Tugu Titik Baca dari Perpustakaan Nasional RI, Juara I
Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan tingkat Kabupaten Jeneponto, Juara Harapan
III tingkat Provinsi Sulawesi Selatan, hingga penghargaan Nugra Jasa Dharma
Pustaloka yang diterima oleh pendirinya menjadi bukti bahwa kualitas pengabdian
tidak selalu ditentukan oleh besarnya anggaran.
Prestasi-prestasi tersebut
sesungguhnya bukan tujuan utama. Penghargaan hanyalah pengakuan atas kerja
keras yang telah dilakukan. Nilai yang lebih penting adalah kemampuan TBM An
Nur untuk terus bertahan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Di tengah berbagai
keterbatasan, lembaga ini berhasil membuktikan bahwa konsistensi dan ketulusan
sering kali lebih kuat daripada fasilitas yang melimpah.
Memasuki tahun ketujuh, TBM An Nur
Palajau memilih kembali pada identitas awalnya sebagai perpustakaan masyarakat
yang mandiri. Keputusan ini menunjukkan keberanian untuk menentukan arah
perjuangan sendiri. Fokus pengembangan tidak hanya pada layanan literasi,
tetapi juga pada pelestarian budaya lokal sebagai bagian penting dari
pembangunan masyarakat. Literasi dan budaya dipandang sebagai dua hal yang
saling melengkapi dalam membangun peradaban desa.
Perjalanan TBM An Nur Palajau
mengajarkan bahwa membangun literasi bukanlah pekerjaan yang selesai dalam
semalam. Ia membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan keberanian untuk terus
melangkah meskipun hasil yang diperoleh tidak selalu segera terlihat. Gerakan
literasi sejatinya adalah investasi jangka panjang yang manfaatnya akan
dirasakan oleh generasi mendatang.
Pada akhirnya, TBM An Nur Palajau
bukan hanya tentang buku, rak, atau bangunan sederhana. Ia adalah simbol
keteguhan hati, semangat pengabdian, dan keyakinan bahwa cahaya sekecil apa pun
dapat mengusir kegelapan. Dari sebuah balai-balai sederhana di Desa Palajau,
cahaya itu terus menyala, memberi harapan bahwa literasi dapat menjadi jalan
menuju masyarakat yang lebih cerdas, berbudaya, dan berdaya.(Els@h).



