Jumat, 17 April 2026 | Gemaliterasi.Com

Desa Samataring Jeneponto Pelestari Kerajinan Tradisional "Attannung Tope"

Minggu, 22 Maret 2026 300
Gemaliterasi.Com

Jeneponto-Gemaliterasi.Com — Desa Samataring, Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto, dikenal sebagai salah satu desa yang berhasil mempertahankan dan melestarikan kerajinan tradisional Attannung Tope di tengah arus modernisasi. Tradisi menenun kain kafan secara tradisional ini tetap hidup dan berkembang berkat peran aktif pemerintah desa dan masyarakat setempat.

Sejak menjabat sebagai Kepala Desa Samataring, H. Subardi terus mendorong pembangunan desa, khususnya pada aspek keamanan dan kesejahteraan masyarakat. Kedua hal tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang stabil dan produktif.

Salah satu upaya nyata yang dilakukan adalah pembinaan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berkembang di desa. Di Desa Samataring, sebagian besar perempuan menjalankan usaha Attannung Tope, yang merupakan warisan budaya turun-temurun dari leluhur mereka.

Di saat jumlah patannung tope di desa lain semakin berkurang dan bahkan terancam punah, keberadaan penenun di Desa Samataring justru tetap eksis. Hal ini tidak lepas dari keberhasilan regenerasi yang berjalan baik, didukung oleh peran pemerintah desa yang berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait.

Berdasarkan data dari Kepala Desa Samataring, jumlah patannung tope di desa tersebut mencapai 79 orang. “Iye, semacam turun temurun,” ungkap Daeng Ta’le, sapaan akrab Kepala Desa, saat ditemui media ini. Sementara itu, data Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Jeneponto mencatat, dari total sekitar 150 penenun di daerah tersebut, Desa Samataring menjadi penyumbang jumlah terbanyak.

Keberlanjutan tradisi ini juga ditopang oleh keterlibatan generasi muda. Di Desa Samataring, masih terdapat penenun dari kalangan milenial berusia sekitar 30-an tahun yang aktif menjalankan Attannung Tope, sehingga peluang pelestarian budaya ini dinilai lebih besar dibandingkan daerah lain.

Sebagai bentuk dukungan, Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jeneponto secara rutin melakukan pembinaan kepada komunitas penenun. “Kami melakukan pembinaan secara kelompok, dalam satu kelompok terdiri dari 10 orang,” ujar salah satu penyuluh. Tradisi Attannung Tope diharapkan terus dilestarikan karena selain meningkatkan pendapatan keluarga, juga menjadi bagian penting dari warisan budaya masyarakat Jeneponto. (Els@h)

Bagikan:
Komentar
Silakan lakukan login terlebih dahulu untuk bisa mengisi komentar.
Login