
Jeneponto-Gemaliterasi.Com. Fasilitator Daerah (Fasda) Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) Kabupaten Jeneponto mengimbau para pengelola perpustakaan desa dan kelurahan agar aktif mengisi data kegiatan pada aplikasi Sistem Informasi Manajemen Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (SIM-TPBIS).
Program TPBIS merupakan inisiatif Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam rangka menyukseskan gerakan literasi nasional melalui kemitraan dengan dinas perpustakaan provinsi, kabupaten/kota, serta perpustakaan desa dan kelurahan di seluruh Indonesia.
Untuk memantau aktivitas dan perkembangan perpustakaan mitra, Perpustakaan Nasional menyediakan aplikasi SIM-TPBIS. Melalui aplikasi tersebut, pengelola perpustakaan diminta menginput berbagai kegiatan literasi dan layanan perpustakaan yang dilaksanakan di masyarakat.
Perpusnas kemudian memberikan penilaian KPI (Key Performance Indicator) berdasarkan data yang dimasukkan oleh pengelola perpustakaan. Penilaian tersebut dibagi dalam tiga kategori warna, yaitu merah (0–30) yang berarti KPI rendah, kuning (31–75) yang berarti KPI sedang, serta hijau (76–100) yang menunjukkan KPI tinggi.
Di setiap provinsi dan kabupaten/kota, Perpusnas menugaskan seorang fasilitator untuk mendampingi perpustakaan mitra. Fasilitator Daerah TPBIS bertugas membantu perpustakaan mentransformasi layanan berbasis inklusi sosial, membina pustakawan, memfasilitasi pelatihan literasi, serta memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, fasilitator juga berperan menganalisis berbagai kendala di lapangan, memberikan motivasi kepada pengelola perpustakaan, serta memastikan keberlanjutan program TPBIS hingga ke tingkat desa dan kelurahan.
Khusus di Kabupaten Jeneponto, Perpusnas menunjuk Risma dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Jeneponto sebagai Fasilitator Daerah TPBIS. Dalam menjalankan tugasnya, Risma secara rutin memantau dan menampilkan perkembangan nilai KPI setiap perpustakaan desa dan kelurahan di wilayah tersebut.
Ia juga tidak bosan mengingatkan para pengelola perpustakaan untuk aktif menginput kegiatan pada aplikasi SIM-TPBIS.
“Tabe’ untuk teman-teman yang KPI-nya masih merah. Terima kasih untuk Desa Palajau yang tetap konsisten dengan nilai 100. Bagi yang masih merah, mohon setiap bulan menginput data di SIM karena dipantau langsung oleh Perpusnas,” ujar Risma.
Namun demikian, partisipasi pengelola perpustakaan desa dan kelurahan di Kabupaten Jeneponto dalam mengisi data di SIM-TPBIS masih tergolong rendah. Sebagian besar perpustakaan masih berada pada kategori warna merah, yang menunjukkan rendahnya aktivitas yang tercatat dalam sistem.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi fasilitator daerah untuk terus mendorong dan memotivasi pengelola perpustakaan agar lebih aktif menjalankan kegiatan literasi serta mendokumentasikannya melalui sistem yang telah disediakan oleh Perpustakaan Nasional. (Els@h).



