
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Perpustakaan An Nur menghadirkan kegiatan menggambar dan mewarnai sebagai salah satu strategi mempertahankan minat kunjung pemustaka. Anak-anak tampak antusias mengikuti kegiatan ini karena menggambar dan mewarnai merupakan kegiatan yang menyenangkan dan kreatif.
Kegiatan ini juga dinilai efektif dari sisi biaya. Perpustakaan An Nur menggunakan kertas bekas sebagai media menggambar, sedangkan pewarna seperti pensil atau krayon diperoleh dari sumbangan masyarakat. Dengan cara ini, perpustakaan tetap dapat menghadirkan kegiatan menarik tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.
Sebelum mulai menggambar atau mewarnai, anak-anak diarahkan terlebih dahulu untuk melakukan kegiatan wajib, yaitu membaca buku atau mengajar temannya membaca. Hal ini bertujuan agar kegiatan menggambar tidak hanya sekadar hiburan, tetapi tetap terkait dengan literasi dan pembelajaran.
Untuk menilai hasil karya pemustaka, Perpustakaan An Nur memanfaatkan teknologi cerdas berupa AI. Sistem ini dapat menilai secara cepat, memberikan masukan tentang kelebihan dan kekurangan karya gambar, sehingga anak-anak dapat belajar sekaligus meningkatkan keterampilan mereka.
Kegiatan menggambar dan mewarnai memiliki banyak manfaat. Selain mengasah kreativitas, kegiatan ini juga melatih konsentrasi, koordinasi tangan-mata, serta kemampuan mengekspresikan diri. Dengan pendekatan sederhana ini, Perpustakaan An Nur berhasil menjadikan pengalaman membaca lebih menyenangkan dan interaktif bagi anak-anak.



