
Jeneponto-Gemaliterasi.Com. Dua kali menerima Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan dari Pemerintah Pusat melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX, ponder dan pengelola TBM An Nur Desa Palajau, Kecamatan Arungkeke, Kabupaten Jeneponto semakin sadar dan merasa terpanggil untuk meningkatkan kepedulian dalam upaya pemajuan kebudayaan, khususnya budaya Daerah Kabupaten Jeneponto. Kepedulian terhadap pelestarian dan pemajuan kebudayaan daerah bukan hanya diwujudkan melalui kegiatan-kegiatan diskusi, kajian, dan penulisan buku konten budaya, melainkan bagaimana supaya nilai-nilai bisa terwarisi kepada generasi.
Kepeduliannya terhadap budaya daerahnya, mendorongnya sebagai warga masyarakat adat Turatea untuk mengumpulkan sisa-sisa peninggalan budaya masyarakat Turatea/Jeneponto yang sekarang masih tersimpan di rumah-rumah warga. Sebagai tempat pengumpulan koleksi benda-benda budaya tersebut, maka TBM An Nur Palajau menambah ruang koleksi, yaitu ruang Museum Mini Budaya Turatea. Sahabuddin, selaku pounder TBM An Nur Palajau berharap agar museum mini budaya Turatea ini nantinya bis menjadi salah satu sarana sumber belajar bagi masyarakat tertutama yang duduk di bangku sekolah.
Pounder TBM An Nur Palajau adalah seorang warga disabilitas yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian dan pemajuan budaya Jeneponto. Sebelum mendirikan Taman Baca Masyarakata (TBM) An Nur, Sahabuddin telah akhir mengkaji dan mempublikasi budaya-budaya daerahnya melalui media sosial. Keaktifannya mengkaji dan membahas budaya-budaya daerah kerap disalahpahami oleh sebagian masyarakat. Tidak sedikit warga net yang mencemohnya dan menuduhnya sebagai warga yang hendak memusnahkan adat istiadat. Ada pula yang menuduhnya sebagai warga yang suka menghina budaya masyarakat Jeneponto.
Baca pula: https://www.gemaliterasi.com/berita/267/tbm-an-nur-palajau-ajak-peserta-lokakarya-digitalisasi-obyek-pemajuan-kebudayaan-ke-obyek-budaya-di-kelara
Walau kerap diserang dengan cacian dan hujatan, namun Sahabuddin tetap memberikan literasi budaya pada masyarakat Turatea melalui postingan-postingannya di media sosial. "Bagi saya, melestarikan dan memajukan budaya itu penting tetapi lebih penting lagi menjaga agama, yaitu menjaga akidah dan ibadah. Makanya, saya mengajak masyarakat untuk melestarikan dan memajukan budaya daerah tanpa mengorbankan agamanya.", ungkap Sahabuddin. "Dalam budaya terkandung berbagai nilai yang perlu diwariskan kepada generasi dalam rangka membangun masyarakat dan Daerah Kabupaten Jeneponto.", tambahnya. "Budaya dan peradaban tidak bisa dipisahkan. Makanya untuk membangun peradaban maka perlu diawali dengan membangun budayanya.", kuncinya.
TBM An Nur Palajau berharap bahwa dengan melalui Museum Mini Budaya Turatea ini, generasi bisa belajar dan memetik nilai-nilai yang terkandung di dalam, yang nanti rasa "Siri na pacce" (harga diri dan kepedulian) bisa tumbuh dan mendorong semangat untuk membangun Kabupaten Jeneponto. Museum mini berisi benda-benda warisan budaya nenek moyang, baik masih lesatari, maupun yang telah ditinggalkan oleh masyarakat dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Benda-benda yang dikumpulkan, antara lain peralatan teknologi tradisional, perabot rumah tangga, perangkat sistem pengetahuan/naskah kuno, perlengkapan ritual, atau alat-alat permainan tradisional.
Untuk mendapat koleksi benda-benda budaya, maka TBM An Nur giat mengajak warga yang dimulai dari warga desanya dan keluarganya untuk menyumbangkan benda-benda pusaka leluhurnya yang sudah tidak dipakai lagi. TBM An Nur Palajau mengharapkan dukungan dari tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi, dan lembaga-lembaga terkait demi terwujud dan berkembangnya museum mini di TBM An Nur Palajau. (Els@h).



