Kamis, 23 April 2026 | Gemaliterasi.Com

Supremasi Bangkala Abad XVI-XVII, Kini Kembali Memimpin Bumi Turatea

Oleh: Sahabuddin, S.Pd (Pounder TBM An Nur Palajau)
Selasa, 25 Februari 2025 592
Gemaliterasi.Com
Google.com
Bupati dan Wakil Bupati Terpilih Jeneponto 2025-2030

Kerajaan Bangkala bermula dari perkampungan Tanatoa, yaitu seorang putra penguasa Tanatoa, Jaelani Karaeng Paurang menemukan seorang gadis cantik yang tidak diketahui asal usulnya, yang bernama Banrimanurung. Dari pertemuan itu, Jaelani Karaeng Paurang yang telah dijodohkan oleh sepupuhnya, putri penguasa Kalimporo, membatalkan perjodohan lalu menikahi Banrimanurung. Pembahasan tentang asal mula berdirinya Bangkala cukup panjang, namun penulis membatasi saja bahwa dari perkawinan Jaelani Karaeng Paurang lahirlah keturunan yang kelak menjadi penguasa di  Bangkala.

Takluknya Garassi dan Sidenre dari tangan Kerajaan Gowa mendorong Bangkala untuk memperluas pengaruhnya di Bumi Turatea dengan memanfaatkan kedekatannya dengan Kerajaan Gowa yang telah menguasa wilayah Turatea.

Walau Bangkala telah menjadi bagian dari kekuasaan Kerajaan Gowa, namun kedudukannya dalam Kerajaan Gowa tidaklah sama dengan kerajaan taklukan lainnya. Bangkala selain memiliki hubungan politik (sekutu) Kerajaan Gowa juga memiliki hubungan kekerabatan, sehingga memung-kinkan mendapat dukungan kerajaan untuk melakukan perluasan wilayah di Bumi Turatea.

Pada pertengahan abad XVI, yaitu masa kekuasaan raja Tu Maparisika Kallona (1514-1546) Bangkala melakukan pelebaran wilayah hingga menguasai hampir separuh wilayah Turatea. Dengan dukungan raja Gowa, Bangkala memiliki kekuatan menaklutkan wilayah tetangganya dan menguasai Garassi dan menjadi pengontrol wilayah-wilayah yang telah dikuasai oleh Kerajaan Gowa di Bumi Turatea.

Pada abad XVI, Bangkala telah menjadi simbol persekutuan beberapa kerajaan kecil yang berada di sekitar lembah sungai Allu dan sungai Topa. Sebanyak empat belas nama palili Bangkala, yaitu Tanatoa, Pallengu, Mallasoro, Garassikang, Nasara, Rukuruku, Laikang, Patto-pakkang, Punaga, Canraigo, Cikoang, Pangkajene, Barana, dan Beroanging. Pusat pemukiman masyarakat Bangkala dan negeri bagian-bagiannya pada abad XVI-XVII berpusat di lembah sungai Topa. (Mukhlis Hadrawi, 2017).

Pada sumber lain disebutkan bahwa daerah bawahan Bangkala meliputi Tanatoa, pallengu, Mallasoro, Garassikang, Nasara, Rukuruku, dan Laikang. Sedangkan domain Bangkala meliputi Pattopakang, Panyalangkang, Punaga, Canraigo, Cikoang, Pangkajene, Barana dan sendrian, Baroanging (berdiri) sendiri. (Ian Caldwell, 2016). Dampak penaklukan Gowa terhadap kerajaan-kerajaan bersuku Makassar seperti Garassi dan Sidenre, membawa implikasi positif terhadap Bangkala. Runtuhnya Garassi dan Sidenre sebagai kerajaan yang terkuat dan berpengaruh di Bumi Turatea menjadi kesempatan bagi Bangkala untuk tampil sebagai kerajaan terpenting yang memiliki supremasi di Bumi Turatea.

Sebenarnya antara Bangkala dan Garassi bukanlah kerajaan yang terpisah dan tidak berkaitan sama sekali. Justru keduanya memiliki hubungan kebangsawanan yang tercipta melalui perkawinan antar bangsawan. Menurut sumber, disebutkan bahwa Latena Bangkala yang diidentifikasi sebagai raja Bangkala, darahnya berasal dari keturunan Garassi. Hanya karena pengaruh politik dan ambisi Gowa meluaskan kekuasaannya ke wilayah Turatea, maka Bangkala dan Garassi terbawa pada arus kepentingan yang berbeda. Bangkala memilih berada pada posisi aman, sehingga lebih memilih bergabung dengan Gowa, sementara Garassi dan Sidenre tetap mempertahankan diri dan melakukan perlawanan dengan Gowa.

Tanpa dukungan Bangkala, Garassi dan Sidenre berperang melawan Gowa yang telah menguasai hampir seluruh wilayah Turatea. Setelah mendapat serangan berulang-ulang, akhirnya Garassi dan Sidenre harus bertekuk lutut pada kekuasaan Gowa. Dampak kekalahan perang ini, menurut sumber, silsilah raja-raja Garassi dan Sidenre terputus. Bisa jadi raja diturunkan dari tahtanya dan kalompoang (mahkota) disita oleh Gowa. Meski demikian, hubungan kekerabatan Bangkala dan Garassi terjalin kembali ketika Bangkala tampil sebagai pemegang kendali Turatea atau kuasa Gowa. 

Dalam Perang Makassar 1666-1667, Bangkala memilih membantu Kerajaan Gowa melawan sekutu. Namun, seiring dengan kejayaan Kerajaan Gowa yang berakhir kalah dalam perang Makassar pada 1667 oleh Kerajaan Bone dan sekutunya, maka serta merta Bangkala pun mengalami pelemahan kedudukan politik di Bumi Tuatea.(Mukhlis Hadrawi, 2017).

Pilkada keempat dilaksanakan pada 27 Nopember 2024 serentak di seluruh Provinsi dan Kabupaten/Kota di Indonesia. Pilkada Jeneponto diikuti oleh 4 pasangan calon, yaitu: 1. Efendi Al Qadri Muliadi-Andi Surya Anri Bulu, 2. Paris Yasir-Islam Iskandar, 3. Muhammad Syarif-Moch. Nur Alim Qolby, dan 4. Syamsuddin Karlos-Syafruddin Nurdin. Pilkada ini dimenangkan oleh pasangan nomor urut 2 dengan perolehan suara 42,06 %.

Hasil Pilkada Jeneponto ini sempat diperkarakan oleh pasangan nomor urut 3 ke MK yang menuntut dilaksanakannya Pemungutan Suara Ulang (PSU), namun setelah melakukan dua kali proses persidangan akhirnya pada tanggal 24 Pebruari 2024 MK memutuskan menolak tuntutan pasangan Nomor Urut 3. Kemenangan Paris Yasir disambut gembira oleh masyarakat Jeneponto, khususnya para pendukunya di Bangkala, karena ini mewakili Bangkala untuk memimpin kembali Bumi Turatea.

Berikut Bupati dan Wakil Bupati Jeneponto yang terpilih melalui pemilihan langsung oleh rakyat:

1.      Drs. H. Rajamilo, MP--Drs. H. Burhanuddin Baso Tika (2008-2013)

2.      Drs. H. Iksan Iskandar, M.Si--H. Mulyadi Mustamu, SH (2013-2018)

3.      Drs. H. Ikhsan Iskandar, M.Si—H. Paris Yasir, SE,MM (2018-2023)

4.      H. Paris Yasir, SE,MM—Islam Iskandar (2025-2030). 


Referensi: 

-          Abd Rauf Sulaeman, 2014. Jeneponto dalam Dua Demensi Tradisi: Suatu tinjauan Arkeologi. Palu: Etnoreflika Volume 3, Nomor 1, Februari 2014.

-          Caldwell, Ian dan Bougas, Wayne A, 2016. Sejarah Awal Binamu dan Bangkala. Yokyakarta: Ombak.

-          Hadrawi, Muhlis, 2017. Bangkala dan Binamu: Suatu Kajian Naskah Lontara’ Dalam Sosial-Politik Jeneponto Kuno. Makassar: Etnosia: Jurnal Etnografi Indonesia Volume 2 Edisi 2, Desember 2017.

-          Syawal, Ismail. Dari Onderafdeeling Hingga Terbentuknya Kabupaten Jeneponto (1909-1959). Palu: Moderasi Jurnal Studi Ilmu Pengetahuan Sosial, Vol. 4, No. 1.

Bagikan:
Komentar
Silakan lakukan login terlebih dahulu untuk bisa mengisi komentar.
Login